"WANITA KEPALA 3"

 Umumnya, orang akan dengan penuh semangat bercerita tentang masa-masa muda mereka.

Ada yang mengenangnya seperti matahari pagi yang terbit, terang dan hangat.
Masa remaja dipenuhi dengan kisah-kisah manis, pertemanan yang riuh rendah, dan pencarian pengetahuan yang terasa seperti petualangan tiada henti.
Lalu masa awal dewasa—usia 20-an yang penuh gejolak.
Semangat mengebu-gebu mencari jati diri, mencoba berbagai kemungkinan, mengejar karir, menabrak dinding-dinding realitas, hingga jatuh bangun dalam soal cinta.
Semuanya seperti riuh pasar malam—penuh warna, penuh suara, penuh hiruk pikuk.

Namun, inilah rasanya ketika seorang wanita memasuki usia awal 30-an.
Segalanya mulai berubah ritme.
Perjalanan hidup tak lagi terburu-buru, melainkan lebih pelan, lebih dalam, lebih bermakna.

Mata kini memandang dunia dengan sendu yang hangat,
seperti menonton hujan sore dari balik jendela—tenang, romantis, mengalir begitu lembut.

Hati terasa ringan, seumpama kapas.
Ia melayang-layang bagai putik bunga yang tertiup angin musim semi, bebas, tenang, tanpa harus selalu tahu ke mana akan terbawa.

Otak pun seolah kembali ke masa bayi.
Mampu tertawa untuk kebodohan-kebodohan kecil,
mengangguk dengan tulus untuk setiap pemahaman yang baru,
dan meneteskan air mata tepat pada waktu yang pantas—bukan karena lemah, tapi karena justru semakin kuat memahami arti rasa.

Itulah rasanya… menjadi seorang wanita dewasa yang matang.
Segalanya terasa ringan.
Permasalahan hidup yang dulu terasa seperti badai kini hanya seperti angin lalu—tetap ada, tapi tidak lagi menggetarkan jiwa dengan ketakutan.
Semuanya mengalir, seperti sungai yang tahu jalannya menuju laut.

Itulah aku sekarang.
Aku yang belajar menikmati hari-hari dengan sederhana, dengan hati yang ringan, dan dengan jiwa yang penuh syukur.
Seperti sebuah lagu yang menemaniku, Taylor Swift dengan “Fearless”—
aku pun ingin berjalan ke hari esok dengan keberanian yang sama.
Apapun yang datang, aku siap menyambutnya.
Dengan senyum, dengan keyakinan, dan dengan hati yang telah berdamai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISI NEGATIF SI PENDIAM

HARUS KEMBALI KE PENIADAAN DIRIKAH?