Sore ini, dalam perjalanan pulang, aku menemukan jeda kosong di sepanjang jalan menuju rumah. Jeda itu seakan memberi ruang untuk menganalisis dan merangkum semua kegiatan sejak pagi. Namun, di sisi lain aku ingin menjadi seperti Patrik, si bintang laut yang mengosongkan pikirannya, berbicara tanpa harus berbagi terlalu banyak, tanpa beban, hanya ada napas dan ruang kosong.

Tapi semakin aku mencoba mengosongkan diri, justru semakin terasa ada ruang yang hampa—ruang yang dipenuhi rasa asing. Rasanya seperti diasingkan dari lingkaran yang seharusnya bisa kuanggap rumah. Padahal, aku tak pernah menutup diri untuk terlibat, tak pernah benar-benar menolak kehadiran, hanya saja langkahku seolah tak pernah dihitung, keberadaanku seakan tak pernah dianggap. Di saat orang lain saling terhubung, aku justru berdiri di tepi, membawa hati yang pelan-pelan belajar membisu.

Aku ingin bisa sesederhana Patrik, tertawa tanpa alasan, hidup tanpa rasa terbebani. Namun kenyataannya, aku manusia yang merasakan, yang menanggung sepi sekaligus berharap, meski di dalam dada ada getir karena tak pernah benar-benar dipeluk oleh kebersamaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISI NEGATIF SI PENDIAM

HARUS KEMBALI KE PENIADAAN DIRIKAH?