SISI NEGATIF SI PENDIAM

 Aku lelah.

Bukan hanya lelah raga, tetapi juga lelah jiwa yang harus tunduk pada sistematis aturan, pada tumpukan masalah kehidupan yang datang tanpa henti.
Seolah dunia ini hanya mengenal satu cara: menekan, menguji, dan menuntut.

Aku teringat akan sebuah julukan dari keluargaku.
Bukan, itu bukan panggilan sayang—melainkan sindiran.
Mereka menjulukiku “si mulut kerang”.
Entah bagaimana kata itu begitu menempel, seakan menjadi label yang tak pernah bisa kucabut.

Setiap kali ucapan itu terdengar, luka lama kembali terbuka.
Ada rasa sakit yang seketika menyusup, meski bibirku memilih bungkam.
Aku tahu, aku tak mampu membalas.
Aku tak pernah bisa mengucapkan balik kata-kata yang setajam itu.
Jadilah aku diam, tenggelam dalam kesunyian yang kian menyesakkan.

Dan kini, hingga aku dewasa, bayang-bayang itu masih menempel.
Setiap kali berhadapan dengan problem kehidupan, aku hanya mampu mengelus dada.
Menatap kosong ke kejauhan, nanar, seakan mencari jawaban di langit yang tak pernah menjawab.

Kadang, aku pun mencoba memberontak.
Namun, caraku selalu setengah hati.
Aku takut jika kata-kata yang terlalu lugas justru membuat maksudku dipelintir, disalahartikan, atau bahkan dipatahkan sebelum sempat dimengerti.
Maka aku kembali memilih diam, meski diam itu sendiri membunuh perlahan.

Dan di tengah semua ini, sering aku berpikir, mungkin pada hari ketujuh, Tuhan keliru.
Mungkin ciptaan-Nya yang paling cacat bukan langit, bukan bumi, bukan binatang,
melainkan manusia.
Karena seandainya hanya ada binatang saja, dunia mungkin lebih jujur.
Tak ada sindiran yang menyakitkan, tak ada mulut yang melukai dengan kata,
hanya insting, hanya hidup apa adanya—tanpa kepalsuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARUS KEMBALI KE PENIADAAN DIRIKAH?