Postingan

"WANITA KEPALA 3"

 Umumnya, orang akan dengan penuh semangat bercerita tentang masa-masa muda mereka. Ada yang mengenangnya seperti matahari pagi yang terbit, terang dan hangat. Masa remaja dipenuhi dengan kisah-kisah manis, pertemanan yang riuh rendah, dan pencarian pengetahuan yang terasa seperti petualangan tiada henti. Lalu masa awal dewasa—usia 20-an yang penuh gejolak. Semangat mengebu-gebu mencari jati diri, mencoba berbagai kemungkinan, mengejar karir, menabrak dinding-dinding realitas, hingga jatuh bangun dalam soal cinta. Semuanya seperti riuh pasar malam—penuh warna, penuh suara, penuh hiruk pikuk. Namun, inilah rasanya ketika seorang wanita memasuki usia awal 30-an. Segalanya mulai berubah ritme. Perjalanan hidup tak lagi terburu-buru, melainkan lebih pelan, lebih dalam, lebih bermakna. Mata kini memandang dunia dengan sendu yang hangat, seperti menonton hujan sore dari balik jendela—tenang, romantis, mengalir begitu lembut. Hati terasa ringan, seumpama kapas. Ia melayang-l...

SISI NEGATIF SI PENDIAM

 Aku lelah. Bukan hanya lelah raga, tetapi juga lelah jiwa yang harus tunduk pada sistematis aturan, pada tumpukan masalah kehidupan yang datang tanpa henti. Seolah dunia ini hanya mengenal satu cara: menekan, menguji, dan menuntut. Aku teringat akan sebuah julukan dari keluargaku. Bukan, itu bukan panggilan sayang—melainkan sindiran. Mereka menjulukiku “si mulut kerang” . Entah bagaimana kata itu begitu menempel, seakan menjadi label yang tak pernah bisa kucabut. Setiap kali ucapan itu terdengar, luka lama kembali terbuka. Ada rasa sakit yang seketika menyusup, meski bibirku memilih bungkam. Aku tahu, aku tak mampu membalas. Aku tak pernah bisa mengucapkan balik kata-kata yang setajam itu. Jadilah aku diam, tenggelam dalam kesunyian yang kian menyesakkan. Dan kini, hingga aku dewasa, bayang-bayang itu masih menempel. Setiap kali berhadapan dengan problem kehidupan, aku hanya mampu mengelus dada. Menatap kosong ke kejauhan, nanar, seakan mencari jawaban di langit yang...
  Sore ini, dalam perjalanan pulang, aku menemukan jeda kosong di sepanjang jalan menuju rumah. Jeda itu seakan memberi ruang untuk menganalisis dan merangkum semua kegiatan sejak pagi. Namun, di sisi lain aku ingin menjadi seperti Patrik, si bintang laut yang mengosongkan pikirannya, berbicara tanpa harus berbagi terlalu banyak, tanpa beban, hanya ada napas dan ruang kosong. Tapi semakin aku mencoba mengosongkan diri, justru semakin terasa ada ruang yang hampa—ruang yang dipenuhi rasa asing. Rasanya seperti diasingkan dari lingkaran yang seharusnya bisa kuanggap rumah. Padahal, aku tak pernah menutup diri untuk terlibat, tak pernah benar-benar menolak kehadiran, hanya saja langkahku seolah tak pernah dihitung, keberadaanku seakan tak pernah dianggap. Di saat orang lain saling terhubung, aku justru berdiri di tepi, membawa hati yang pelan-pelan belajar membisu. Aku ingin bisa sesederhana Patrik, tertawa tanpa alasan, hidup tanpa rasa terbebani. Namun kenyataannya, aku manusia yan...

HARUS KEMBALI KE PENIADAAN DIRIKAH?

Gambar
Pikiran ku kosong, di sela sela isi perutku yang kram. Mencoba terhubung dengan sisi kemanusian, meskipun melalui maya, tak kunjung ujung Ini tenang, ini baik - baik saja, tapi sakit ini adalah penipuan rasa syukur yang berkamuflase dari bulu domba Atau ini adalah isyarat untuk pergi dari dunia? usaha menghianati hasil. Lelah hanya mendapat sakit Tangis hanya menambah luka Hei, diriku yang tiga puluh, target mu adalah empat puluh? tapi analisis mu kacau.. kau bahkan tak berani membayangkan masa itu nantinya...  terlunta lunta tanpa harga diri terserang penyakit dingin , tertutupi air hujan di sela air mata mu. Harus kembali kah aku akan pemikiran pengakhiran hidup? harus kembali fokus peniadaan diri?